MEDAN – Pasca-banjir yang melanda, Kota Medan kembali dirundung masalah. Kali ini, hiruk pikuk kota digantikan oleh antrean panjang kendaraan yang mengular bak ular naga di Jalan Panglima Denai. Kejadian yang terjadi pada Senin (1/12/2025) pagi, sekitar pukul 09.56 WIB, ini sontak melumpuhkan aktivitas warga, terutama mengingat lokasinya yang berdekatan dengan Terminal Amplas, salah satu titik krusial di Medan. Sumber kekacauan ini adalah SPBU 14.202.185, yang menjadi biang keladi kemacetan parah di kedua sisi jalan. https://mega5000.id/banjir-usai-medan-terjebak-macet-bbm-antrean-mengular-picu-kekesalan-warga/
Akar Penyebab Kemacetan Tak Terkendali
Ternyata, biang keladi dari semua kekacauan ini adalah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Pasca-banjir besar yang baru saja melanda, warga Medan merasakan dampaknya berupa kelangkaan BBM. Kepanikan akan kehabisan bahan bakar untuk kendaraan pribadi mendorong warga berbondong-bondong mendatangi SPBU terdekat. Ibaratnya, kepanikan membuat masyarakat kehilangan pertimbangan rasional, sehingga serbuan ke SPBU menjadi tak terkendali, menciptakan antrean yang luar biasa panjang.
Situasi semakin diperparah dengan berbagai jenis kendaraan yang ikut mengantre. Bukan hanya sepeda motor, mobil pribadi, bahkan truk-truk besar turut meramaikan antrean. Keberadaan kendaraan berukuran besar di tengah jalan jelas menyempitkan lajur, ditambah lagi dengan manuver kendaraan lain yang berusaha menyalip atau berputar arah. Akibatnya, jalanan berubah menjadi lautan kendaraan yang bergerak sangat lambat, bahkan sesekali berhenti total. Pemandangan ini tentu saja menimbulkan rasa jengkel yang mendalam.
Kekecewaan Warga dan Pertanyaan Tanggung Jawab
Hal yang paling menambah kekesalan warga adalah minimnya petugas pengatur lalu lintas di lokasi. Di tengah situasi darurat dan antrean yang berpotensi membahayakan, kehadiran petugas pengatur lalu lintas menjadi sangat krusial. Namun, harapan warga ini tampaknya tidak terpenuhi, menyebabkan kekecewaan yang meluas.
Fenomena di Jalan Panglima Denai ini bukan sekadar masalah antrean BBM semata, melainkan cerminan yang lebih luas dari dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh bencana banjir di Medan. Kelangkaan pasokan, kelumpuhan transportasi, hingga kekecewaan terhadap penanganan pemerintah, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Situasi di Jalan Panglima Denai menjadi pengingat kuat bahwa bencana meninggalkan jejak yang panjang. Dampaknya bukan hanya kerugian materiil, tetapi juga gangguan aktivitas sehari-hari yang dapat semakin menekan kondisi warga. Diharapkan, ke depannya pemerintah dapat lebih sigap dan antisipatif dalam menangani dampak pasca-bencana, agar kejadian serupa yang terus-menerus membuat warga Medan pusing tujuh keliling dapat dicegah.